ﻠﻭﻴﻌﻟﻡﺍﻠﻌﺑﺎﺪ ﻤﺎﻔﻲ ﺮﻤﺿﺎﻥ ﻠﺗﻣﻧﺕﺃﻤﺗﻲﺃﻥ ﻴﻛﻭﻥ ﺴﻧﺔ
“Andaikan hamba-hamba itu mengetahui kebesaran rahmat yang turun di bulan Ramadhan, niscahya ummatku akan menginginkan supaya Ramadhan itu satu tahun penuh”
Iman itu teradang naik, terkadang pula turun
Terkadang kita merasa bahagia dengan sebuah kemenangan, itu wajar. Tetapi kadang kewajaran itu tidak kita imbangi dengan suatu sikap waspada pada apa yang akan terjadi setelah kemengan-kemengan yang telah kita lalui. Sebut saja setelah perang Badar yang jelas-jelas dimenangkan pasukan kaum muslimin. Apakah setelah mendapat kemenangan yang gemilang tersebut umat islam “enjoy” melakukan segala aktivitas keislamannya. Oh ternyata tidak sahabat-sahabatku. Meski kemengan telah diraih ternyata masih ada problematika setelah kemenangan tersebut seperti Bani Qainuqo’ yang mengingkari kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin, kemudian terjadi lagi perang Uhud ditahun berikutnya, lagi, lagi dan lagi… terus berkecamuk silih berganti terkadang menang telak, terkadang pula kalah telak. Seperti itu juga hidup kita dan iman kita. Terkadang naik terkadang pula turun. Itu juga wajar. Kita bukan Nabi dan Rosul yang imannya senantiasa naik, bukan malaikat yang imannya konstan, tetapi perlu diingat bahwa kita juga bukan syetan yang imannya terus mengalami penurunan. Kita manusia yang iman kita bisa turun juga bisa naik. Tetapi ini tidak bisa dijadikan pembelaan diri. Mentang-mentang manusia kemudian mengacuhkan imannya, bukan seperti itu tetapi kita selalu berusaha agar iman ini agar meningkat atau paling tidak terjaga keistiqomahannya.
Ramadhan itu bulan pembakar
Belum lepas satu purnama kita melewati saat-saat “sulit” melakukan apa yang sebenarnya halal kita lakukan, memakan apa yang sebenarnya halal untuk kita makan, meminum apa yang sebenarnya halal untuk kita minum. Tetapi mungkin aktivitas harian kita saat ini yang kadang membuat kita melupakan saat-saat sulit menahan lapar dan dahaga, saat-saat mata dipaksa untuk bangun malam, saat-saat lisan ini akrab dengan al-Qur’an, saat-saat kaki ini ringan melangkah ke Masjid dan segala moment ibadah yang ada saat bulan Ramadhan. Mungkin diri ini telah lupa dengan Ramadhan dimana dosa di lebur, semua do’a di ijabah, semua pinta di kabulkan dan segala aktivitas di dalamnya di nilai sebagai ‘ibadah. Layaknya olahraga, Ramadhan hanyalah “warming-up” menuju Ramadhan-Ramadhan sebenarnya. Tetapi kebanyakan kita hanya melakukan “warming-up” tanpa sempat melakukan olahraga yang sebenarnya pada bulan selain dari bulan Ramadhan. Yang namanya bulan latihan ya tetap latihan, karena apabila kita sukses dan mendapat peringkat tertinggi dalam latihan tetapi disaat ujian sebenarnya kita gagal, sama saja peringkat tertinggi itu hanya semu atau bohong semata. Apabila kemarin kita telah memasuki bulan Ramadhan maka setelah Ramadhan kita sendirilah yang harus memaksa Ramadhan masuk ke dalam diri kita agar saat-saat indah bulan Ramadhan itu bukan menjadi agenda tahunan tetapi bagaimana aktivitas tahunan itu sedikit demi sedikit menjadi kebiasaan bahkan menjadi kebutuhan hidup kita, yang tanpanya hidup terasa hampa dan tiada guna.
Syawal itu bulan peningkatan
Meningkat dalam artian positif, bukan meningkat makannya sesudah sebulan tidak boleh makan dan minum di siang hari, bukan meningkat tidurnya sesudah sebulan dipaksa bangun malam untuk sholat dan sahur, bukan meningkat dosanya setelah hari fitri yang seolah tidak punya dosa seperti bayi baru lahir. Tetapi yang meningkat adalah bagaimana moment-moment ibadah yang selama ini kita kerjakan di dalam bulan Ramadhan dapat pula kita kerjakan di sebelas bulan selain dari bulan Ramadhan. Sebenarnya ini bukanlah perkara yang sulit mengingat sebelumnya yaitu pada bulan Ramadhan, kita telah berhasil melewati bermacam haling-rintang dan segala peraturan hidup yang ada hanya pada bulan Ramadhan, hanya saja terkadang kita meremehkan manfa’at dari bulan Ramadhan. Sehingga ketika gema suara takbir, tahmid dan tahlil berkumandang maka detik itu pula tidak ada lagi tadarus, detik itu juga tiada tarowih, detik itu juga tiada puasa dll. Syawal seolah dijadikan pintu gerbang perpisahan dengan aktivitas peribadatan pada bulan Ramadhan yang tentu saja tidak hanya mengekang nafsu kita terlebih mengekang aktivitas harian kita.
Ramadhan itu melatih kecukupan
Kita tentu masih ingat dikala lapar dan dahaga ini menghadang, kita disambut pula dengan makanan-makanan khas bulan Ramadhan yang enak-enak tentunya. Mungkin secara materi kita mampu untuk membeli semuanya. Disinilah nafsu kita masih menguasai kita, dikala bedug maghrib akan menjelang kita sempatkan diri ke pinggir-pinggir jalan tempat jajanan-jajanan ini disediakan ya mulai kolak, es buah, kolang-kaling dsb. Taruhlah kita beli semuanya satu-persatu kemudian duduk manis di dekat radio yang menyiarkan sirine tanda buka, sementara didepan kita terhidang segala jajanan yang baru saja kita beli. Begitu sirine tanda berbuka ini berbunyi kita minum air putih atau minuman manis lainnya, berucap do’a dan dengarlah bahwa nafsu ini telah hilang hanya dengan segelas air manis saja. Maka benarlah bahwa bulan Ramadhan itu bulan tarbiyah, bulan dimana kita diajarkan untuk senantiasa qona’ah dengan segala yang kita miliki dengan menyandarkan segala sesuatu sesuai kebutuhan kita, bukan sesuai keinginan kita. Coba bayangkan bila selama kita berbelanja di supermarket “hanya” membeli yang kita butuhkan saja tanpa menuruti apa yang kita inginkan, maka uang anggaran belanja akan tersisa banyak sekali dan karena sisanya banyak maka infaqnya pun bisa lebih banyak juga kan.
Ramadhan itu melatih kejujuran
Mungkin kita bisa bahkan terbiasa jujur pada oranglain, tetapi kadang kita tidak mampu untuk jujur pada diri sendiri. Dibulan Ramadhan inilah kejujuran kepada diri kita akan terasah. Di dalam kamar bisa saja kita selundupkan beberapa makanan dan minuman untuk kita santap saat tiada orang dirumah. Tetapi kenapa tidak kita lakukan, jujur memang saat puasa yang kita rasakan adalah lapar dan dahaga, itu memang nafsu, tetapi ini nafsu manusiawi, karena ia menuntut yang kita butuhkan dan bukan menuntut yang kita inginkan. Disini kita dilatih untuk jujur dan mampu memecahkan suatu problematika hidup. Kita pentingkan raga kita atau perintah-Nya yang tentu saja Dia melihat kita. Saat Ramadhan pula kesadaran kita bahwa Alloh maha melihat akan kian meningkat, coba jawab kenapa saat sepi tiada seorang pun disamping kita, kita tetap teguh puasa padahal kesempatan untuk melakukannya terbuka lebar. Sikap apa yang mendasari itu semua kalau bukan hati ini takut akan Alloh dan yakin bahwa Dia maha Mengetahui atas segala ciptaan-Nya, dan karena kita adalah ciptaan-Nya maka kita pun tak luput dari penglihatan-Nya. Tetapi ini hanya pada bulan Ramadhan, karena biasanya setelah Ramadhan maka korupsi jalan lagi, mencontek jalan lagi walaupun diri ini sadar bahwa Alloh selalu mengawasi. Bahkan terkadang kita tanpa sadar medikte Alloh untuk memaklumi keadaan kita. “ya, Alloh kalau tidak seperti ini mau makan apa keluargaku”,”ya Alloh otak hamba sudah mentok tidak bisa mikir lagi…”
Ramadhan terakhir adalah hari berkabung
Sudah menjadi kebiasaan kita bahwa ketika takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang maka saat itu juga memuncak suka cita kita karena kita telah “menang” dan “berhasil” menyelesaikan ujian tidak makan dan tidak minum selama sebulan penuh. Dan dihari selanjutnya atau paginya kita akan menjadi Fitroh suci seperti bayi baru lahir tanpa membawa dosa. Tetapi apakah memang seperti itu. Ramadhan itu sepertiga awalnya adalah rahmat. Apakah kita yakin mendapat rahmat sementara kita sudah berfikir tentang baju baru, parsel, pulang kampung dll sehingga kadang membuat waktu kita terbatas karena ada ibadah-ibadah tambahan terlebih tak seperti biasnya dibulan Ramadhan sepertinya tidak afdlol apabila sholat shubuh dan ‘isya kok dirumah. Sepertiga yang kedua adalah maghfiroh. Apakah kita yakin sudah diampuni semua dosa-dosa kita sementara kita saat itu tengah sibuk menyiapkan segala bekal dan barang-barang yang akan kita bawa saat mudik. Dan sepertiga yang terakhir adalah terhindar dari api Neraka, emangnya kita yakin terhindar dari api neraka padahal saat itu kita tengah berada di perjalanan ke kampung halaman kita yang notabene kita tinggalkan ibadah kita (terkadang termasuk puasa) selama satu atau dua hari di dalam bus, kereta atau kendaraan pribadi kita. Apabila ini yang terjadi pada diri kita, maka apakah patut kita disebut orang yang muttaqiin?. Dikisahkan dulu ketika menjelang akhir Ramadhan Madinah gempar. Kegemparan yang terjadi karena suka citanya menyelesaikan Ramadhan, tetapi lebih menggemparkan lagi dengan isak tangis yang tidak hanya keluar dari kesedihan Rasululloh, tetapi seluruh penduduk Madinah pada umumnya karena kekhawatiran mereka tidak dapat bertemu dengan Ramadhan tahun berikutnya. Coba bayangkan Ramadhan dimana pada bulan ini Pintu syurga dibuka selebar-lebarnya, Pintu Neraka di tutup serapat-rapatnya, Syetan dibelenggu, ibadah wajib dilipat gandakan pahalanya, ibadah sunnah dinilai wajib, do’a diijabahi dll. Dan ketika Ramadhan usai… maka ditutup Pintu Syurga, Syetan akan berkeliaran di sekitar kita kembali dan yang pasti pahala tidak dapat dikali lipat sebanyak pada bulan Ramadhan. Maka patutlah ketika akan berakhir bulan Ramadhan kota Madinah berkabung dalam kesedihan dan kekhawatiran.
Ramadhan sudah sering kita lalui
Dua puluh, tiga puluh, tujuh belas atau berapa pun usia kita maka akan sebanding dengan banyaknya Ramadhan yang kita lalui. Silahkan bertanya pada diri kita. Sudah berapa kali kita lewatkan bulan Ramadhan dan apa yang kita dapat dari Ramadhan yang kita lewati itu. Apakah kita masih sama saja dengan hari-hari biasanya? Apabila seperti itu berarti kita belum bisa memaknai bagaimana dasyatnya bulan Ramahan itu. Dan itu berarti kita harus belajar pada Ramadhan tahun berikutnya yang kita sendiri tidak mengetahui apakah kita akan disampaikan padanya oleh Alloh atau tidak…
Wallohu’alam bi showab
Taked from:
• Tambihul Ghofilin
• Shoum best of the best
• Tarbawi magazine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar